Sosok Yusril Ihza Mahendra memang unik. Seorang begawan hukum tata negara di Indonesia, tetapi juga mengalir jiwa acting di dirinya. Kerap “menang” ketika bertarung di Mahkamah Konstitusi (MK), tetapi juga bisa menggondol penghargaan festival film internasional dalam kategori “best actor”.

 

Nah, ternyata ada sisi lain dari mantan Menteri Hukum dan HAM ini yang tak banyak diketahui orang. Ia mengaku memiliki ketertarikan kepada bidang arsitektur hingga kolektor barang-barang seni, seperti lukisan dan keris.

 

Yusril menuturkan bahwa dirinya sudah lama tertarik kepada bidang arsitektur, baik arsitektur bangunan maupun pertamanan. “Saya banyak belajar otodidak,” ujarnya kepada hukumonline melalui sambungan telepon, Selasa (12/8).

 

“Saya menggambar beberapa rangka bangunan yang kemudian difinalkan oleh insinyur sipil dan insinyur arsitektur, kemudian juga membuat taman. Itu banyak saya lakukan. Saya sangat suka dengan dunia itu. Memang tidak banyak orang tahu, tapi saya sangat suka,” ungkapnya.

 

Selain arsitektur, Yusril juga hobby mengkoleksi benda-benda seni. Ia merupakan kolektor keramik, keris dan lukisan. Koleksinya pun sudah cukup banyak dan merupakan karya-karya seniman besar di Indonesia.

 

Yusril mengaku memiliki 5 ribu keramik dan 50 lukisan-lukisan seniman terkenal. Beberapa di antaranya adalah karya Raden Saleh, Affandi dan Hendra Gunawan. Ia mengaku sudah menggemari lukisan sejak kuliah, dan bahkan sempat membuat lukisan-lukisannya sendiri.

 

Sebagai informasi, jiwa seni Yusril memang sudah tumbuh sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama) ketika dia aktif bermain drama. Dirinya lebih dahulu berkecimpung di dunia seni dibanding dunia hukum. Sebelum kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), Yusril sempat menimba ilmu di akademi teater di Taman Ismail Marzuki.

 

Bahkan, ketika berkuliah di FHUI, Yusril juga mengambil kuliah di fakultas sastra jurusan filsafat. Ia menyukai filsafat karena ilmu tersebut sangat sekali erat kaitannya dengan masalah pemikiran dan seni. Itulah yang kerap dipraktekkannya selama ini.

 

“Saya main drama dari SMP sampai mahasiswa masih main film beberapa kali,” ungkapnya.

 

Tak hanya itu, Yusril juga terus melukis di sela-sela kesibukannya menimba ilmu islamic studies (di tingkat strata-2), doktor hukum dan doktor politik. “Saya dulu banyak melukis cat air. Tetapi  sampai saat ini saya tidak punya lukisan yang saya buat, karena lukisannya diambil-ambilin orang. Tidak bisa lagi cari,” ujarnya.

 

“Setelah itu, saya sudah malas membuat lukisan,” tutur Yusril.

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, mantan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) ini mengaku sudah lelah dengan situasi politik di Indonesia. Yusril saat ini sedang merenung tentang rencananya ke depan. “Lagi mikir-mikir hidup ini mau kemana, lihat politik ini saya capek. Melelahkan politik Indonesia,” ujarnya.

 

“Ini jadi membuat saya berpikir apakah besok-besok saya mau tetap di politik atau mungkin saya menulis memoar saja,” tambahnya.

 

Ia menjelaskan bahwa alasannya ingin menulis memoar karena ada banyak peristiwa-peristiwa besar di Indonesia dan para pelakunya sudah meninggal dunia. Ia menuturkan bisa saja memoar tersebut dijadikan sebuah. Namun, sayangnya, Yusril menilai produksi film Indonesia belum cukup menjanjikan di negeri ini karena kurangnya proteksi pemerintah dan monopoli pasar.